Saturday, July 29, 2017


Sumber yang menjadi dasar kesatuan aqidah Islam, adalah apa yang sungguh-sungguh diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, baik berupa firman-firman Allah yang diwahyukan kepadanya ( yakni al-Quran ) maupun haditsnya sendiri.

Sebagai konsekwensi mengakui kerusalan Nabi Muhammad SAW, maka setiap muslim membenarkan apa saja yang diajarkan dalam Al-Quran dan Hadits Nabi. Aqidah-aqidah yang diperintahkan oleh keduanya supaya dianut, diyakini oleh setiap muslim sebagai aqidah-aqidah yang benar. Sedangkan aqidah-aqidah yang diingkari oleh keduanya, diyakini oleh setiap muslim sebagai aqidah-aqidah yang bathil dan salah.

Setiap ayat Al-Quran, karena dinuqilkan secara mutawatir dari suatu generasi kegenarasi berikutnya, maka dapat dipastikan  bahwa setiap ayat Al-Quran itu sungguh-sungguh diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan kepastian itu dan berdasarkan keyakinan akan kewahyuan Al-Quran tersebut, maka ayat-ayatNya menjadi dasar kesatuan uamt Islam. Ayat-ayatNya yang khusus berbicara dalam bidang aqidah dengan sendirinya menjadi pula dasar kesatuan umat Islam dalam bidang aqidah tersebut.

Tidak setiap Hadits Nabi ( perbuatan, ucapan atau sikap Nabi ) yang dinukilkan secara mutawatir sejak dari generasi pertama umat Islam kegenerasi-generai berikutnya, dan disebut Hadits Mutawatir. ada pula hadit-hadits yang dinukilkan secara tidak mutawatir, dan disebut Hadits Ahad.

Mengingat adanya dua Hadits Nabi itu ( Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad ), maka Hadits Mutawatir menjadi dasar kesatuan umat Islam dalam bidang aqidah. Semua muslim berpegang pada aqidah yang diajarkan dalam Hadits Mutawatir.

Sedangkan hadits Ahad tidak menjadi dasar kesatuan dalam bidang aqidah. Sebagian umat Islam dapat menerima Hadits Ahad sebagai sumber pokok ajaran Islam dalam lapangan aqidah. Sebagian lagi tidak bisa menerimanya.

Ayat-ayat Al-quran dan Hadit-hadits Nabi yang berbicara dalam lapangan aqidah tersebut, disebut sebagai dalil-dalil bagi ajaran Islam dalam bidang tersebut. Karena ayat-ayat Quran dan Hadits-hadits Nabi itu sampainya kepada kita dengan cara  penukilan dari generasi demi generasi, maka dalil dari al-Quran dan Hadits-hadits Nabi itu tersebut dengan dalil naqli.

Sumber keragaman dalam aqidah Islam adalah pemahaman para Ulama itu sendiri. Dalam rangka menjelaskan dan menjabarkan aqidah yang terkandung dalam Al-Quran atau Hadits, serta dalam rangka membelanya dari serangan atau kritikan pihak luar, Ulama-ulama Islam telah memeras daya pikir yang mereka miliki. Dengan kata lain mereka berijtihad, supaya dapat memahami dengan baik dan benar ungkapan-ungkapan Al-quran dan hadits Nabi dalam bidang aqidah, sebagaimana dalam bidang-bidang lainnya.

Keragaman dalam aqidah yang dihasilkan oleh para Ulama dari masa lalu merupakan kekayaan pemikiran yang sangat berharga dan telah menjadi bagian dari warisan intelektual umat Islam.

Dalil ( alasan, argumen, atau hujjah ) yang dibangun oleh pemahaman akal para Ulama, untuk menetapkan, menjelaskan, atau membela aqidah Islam, disebut dalil-dalil aqli. Pada hakekatnya dalil-dalil aqli itu berfungsi menjelaskan, menetapkan, menjabarkan, atau membela aqidah-aqidah Islam yang terkandung dalam dalil-dalil aqli.


EmoticonEmoticon